Dalam dunia bisnis di era disruptif, yakni era dimana mencari inovasi baru untuk masa yang akan datang, bukan hanya memenuhi kebutuhan saat ini saja. Teori yang dicetuskan oleh Clayton Christensen 1997 yang memperkenalkan “disruptif innovation” sebagai landasan dalam dunia bisnis yakni menggambarkan perusahaan kecil yang hanya memiliki sumber daya  minim mampu memasuki pasar dan menggantikan dengan sistem yang sudah mapan.

Dalam meningkatkan bisnis untuk mencapai keberhasilan baru, tentunya ada seorang pemimpin yang harus memahami apa yang harus dilakukan, mulai dari mengkomando, mengajarkan, mengevaluasi dan mengontrol untuk mengarahkan karyawan agar lebih berkembang. Seorang pemimpin di abad 21 akan lebih memberikan dukungan dan bimbingan dibandingkan intruksi kepada karyawan, sehingga karyawan dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah dengan cara memberikan energi segar, inovasi serta komitmen yang kuat.

Secara singkat, pemimpin di abad 21 harus memiliki peran sebagai seorang pelatih. Beberapa penelitian menemukan bahwa banyak organisasi yang merubah kebiasaan menuju era digital serta perusahaan yang berinvestasi untuk melatih para pemimpinnya menjadi seorang pelatih. Dengan kata lain, melatih karyawan atau bawahannya untuk sama-sama menuju tujuan sebuah perusahaan atau organisasi.

Hal ini dilakukan karena ada beberapa pemimpin yang memilih langsung memberikan solusi kepada bawahan dibandingkan melatih karyawan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ada juga seroang pemimpin yang merasa apa yang dilakukannya adalah benar dengan melatih bawahannya secara asal-asalan atau semaunya sendiri.

Pemimpin yang baik merupakan pemimpin yang mampu membuat alat pelatihan yang tepat, metode yang bagus dan sering berlatih serta menerima masukan atau kritikan. Untuk membuat alat pelatihan yang tepat, ada 4 gaya yang bisa anda coba dalam perusahaan atau bisnis, yakni sebagai berikut!

 

  • Arahan

 

 

Gaya yang pertama adalah arahan dimana seorang pemimpin memberikan arahan dengan cara menceritakan pengalamannya dalam berkerja atau berbisnis, mulai dari problem atau masalah yang sudah pernah dialami serta cara menyelesaikannya. Dengan gaya pelatihan ini, karyawan dituntut untuk mendengarkan dan menyerap sebanyak mungkin dari pengalaman yang dibagikan oleh seorang pemimpin. Dengan kata lain, seorang pemimpin memberikan motivasi kepada karyawannya untuk melakukan hal yang sama seperti pengalaman yang dibagikan.

 

  • Laissez Faire

 

 

Gaya yang kedua adalah gaya dimana seorang pemimpin melatih karyawannya untuk menyelesaikan permasalahan sendiri. Artinya, pemimpin memberikan kebebasan kepada karyawan untuk mencari solusi terbaik dan keluar dari masalah yang dihadapi tanpa campur tangan seorang pemimpin.

 

  • Non directive

 

 

Gaya yang ketiga adalah gaya pelatihan dimana seorang pemimpin menjadi seorang pendengar, kemudian mempertanyakan apa yang sedang dialami, serta mengarahkan untuk mencari solusi terbaik yang bisa diambil oleh karyawannya. Dengan kata lain, pemimpin di gaya ini memberikan sebuah bayangan penyelesaian masalah secara tidak langsung namun dengan maksud memberikan wawasan serta menunggu kreatifitas dari karyawan yang dilatih untuk belajar menyelesaikan masalah dan mengatasi sistuasi yang menantang seorang diri.

 

  • Situasional

 

 

Dalam gaya yang terakhir ini seorang pemimpin memiliki keahlian untuk melibatkan keseimbangan antara gaya arahan dan gaya Non Directive sesuai dengan kondisi dan kebutuhan spesifik saat itu. Secara garis besar, dalam gaya ini pemimpin harus melakukan gaya Non Directive artinya menjadi pendengar dan mempertanyakan karyawannya yang sedang mengalami masalah barulah melakukan gaya arahan yakni memberikan pandangan mengenai masalah yang sudah pernah dialami seorang pemimpin untuk mendapatkan solusi yang terbaik dari pengalaman yang sudah ada.

Gaya ini adalah gaya yang sangat bagus bagi seorang pemimpin dalam melatih karyawan untuk berkembang lebih maju demi perusahaan yang mampu bersaing pada pasar di era disruptif.

 

Untuk melakukan gaya tersebut, ada langkah dengan model tertentu yang bisa anda lakukan. Sebagai pemimpin anda harus mengerti gaya pelatihan dengan kerangka yang paling efektif. Ada model yang bisa anda lakukan yakni sebagai berikut!

 

Model Grow

Model grow merupakan kerangka pelatihan yang paling umum digunakan oleh pelatih eksekutif. Model ini relative sederhana, sehingga banyak pemimpin yang cocok dan menerapkan model grow sebagai sarana untuk menyusun sesi pembinaan dan pendampingan pada karyawannya.

GROW merupakan gabungan dari beberapa aspek yakni sebagai berikut!

 

 

Ibarat pohon, karyawan harus terus tumbuh dengan langkah pelatihan yang tepat

 

  • Tujuan

Aspek yang pertama adalah menentukan sasaran, mulai dari tujuan kinerja, tujuan pembangunan, masalah yang harus dipecahkan, keputusan dalam membuat solusi atau tujuan dari sesi pelatihan. Adapun rancangan pertanyaan agar seseorang mencapai tujuan yang jelas adalah sebagai berikut :

 

    1. Apa yang ingin dicapai dari sesi pelatihan ini?
    2. Tujuan apa yang ingin anda capai?
    3. Apa yang ingin anda lakukan?
    4. Apa yang sebenarnya anda inginkan?
    5. Apa yang ingin anda capai?

 

  • Realita saat ini

Aspek yang kedua membantu anda dan karyawan mendapatkan kesadaran akan situasi saat-saat ini tentang apa yang sedang terjadi, konteks dan besarnya situasi. Hal yang harus dilakukan mulai dari memberikan karyawan kebebasan memikirkan pertanyaan dan merenungkan jawaban yang diberikan. Dalam arti, sebagai pemimpin harus menggunakan keterampilan pendengar yang baik, bukan untuk memberi solusi atau jawaban menurut pendapat seorang pemimpin. Adapun pertanyaan yang bisa pelatih atau pemimpin rancang untuk merealisasikan kenyataan saat ini pada karyawan adalah sebagai berikut!

 

    1. Apa yang terjadi sekarang (apa, siapa, kapan, dan seberapa sering)? Apa pengaruh dari kejadian saat ini?
    2. Apakah anda sudah melangkah ke arah tujuan yang anda inginkan?
    3. Bagaimana cara anda menggambarkan apa yang anda lakukan?
    4. Apakah keadaan saat ini sesuai dengan tujuan yang anda inginkan?
    5. Jika dibuat skala satu sampai sepuluh dimana posisi anda saat ini?

 

  • Pilihan

Jika anda dan karyawan sudah sama-sama memiliki pemahaman yang jelas mengenai situasinya, percakapan pelatihan beralih ke apa yang akan dilakukan karyawan untuk mencapai tujuan mereka. Berikut pertanyaan yang dirancang untuk membuat pilihan dalam menghasilkan sebuah solusi yang harus dipikirkan karyawan.

 

    1. Apa pilihan anda?
    2. Menurut anda, apa yang perlu anda lakukan selanjutnya?
    3. Apa yang akan menjadi langkah pertama anda?

 

  • Will (Akan atau Maju)

Aspek ini adalah langkah terakhir pada model grow. Di langkah ini, seorang pelatih atau pemimpin memeriksa komitmen dan membantu karyawan untuk membuat rencana tentang tindakan yang jelas untuk langkah selanjutnya. Berikut adalah pertanyaan yang bisa membantu penyelidikan untuk mencapai komitmen.

 

    1. Bagaimana cara melakukannya?
    2. Menurut anda, apa yang perlu anda lakukan sekarang?
    3. Katakan, bagaimana cara anda melakukan itu?

 

Dengan keempat aspek diatas, seorang pemimpin akan membantu karyawan dalam memperbaiki kinerja, memecahkan masalah, membuat keputusan menjadi lebih baik, mempelajari keterampilan baru, dan mencapai tujuan dari karir mereka. Sebagai pemimpin, anda harus melakukan langkah dasar yang harus diperhatikan untuk memulai sebuah pelatihan terhadap karyawan sebagai berikut!

 

Jadilah Seorang Pemimpin yang Baik

 

  • Nilai situasinya terlebih dahulu

Pertama, lihatlah kondisi karyawan anda, apakah mau atau tidak untuk memulai pelatihan saat ini. Alangkah baiknya jika anda menanyakan terlebih dahulu kepada karyawan anda bagaimana situasi mereka.

 

  • Mendengarkan

Kedua, mendengarkan merupakan langkah dasar yang penting untuk melihat situasi yang sedang terjadi. Serap apa yang dikatakan karyawan anda, mulai dari bahasa tubuh dan nada suara yang mereka keluarkan. Jangan merespons apa yang mereka ucapkan, cukup dengarkan untuk melihat situasinya.

 

  • Langkah terbuka

Langkah terakhir adalah mempraktekkan pelatihan secara tidak langsung mulai dari saat ini. Dengan melatih dan mempraktekkan anda akan terbentuk secara sempurna menjadi seorang pemimpin yang baik demi melangkah ke tujuan perusahaan anda bersama karyawan.

 

Dengan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dunia ini berubah-ubah. Untuk menjadi eksekutif yang sukses, anda harus menambah keahlian industri dan fungsional seorang pemimpin untuk belajar dengan cara mengembangkan kapasitas pada karyawan mereka sendiri. Seorang pemimpin bukan hanya sekedar memerintah dan mengendalikan, melainkan  menjadi pelatih yang bertugas untuk menarik energi, memberi kreativitas serta belajar dari karyawan yang akan membangun perusahaan lebih maju di era disruptif.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda. Untuk menjadi pemimpin yang efektif, tentu anda harus memahami langkah dan cara di atas. Bersama Deprintz, Buat Usaha Jadi Mudah!

 

Source : The Leader as Coach

Share

Related Post